Minggu, 07 Juni 2026

2022


Kok Bisa?

Banyak hal yang layak untuk dibahas.

Bagaimana bisa?

Mereka selalu bertanya,
"Kenapa, Ami?"

Kenapa?

Ya, kenapa?

Apa yang salah? Semua baik-baik saja, pikirku. Tidak ada yang keliru dengan keputusan yang telah kuambil.

Ternyata tidak.

Untuk kesekian kalinya, aku kalah.

Siapa perempuan-perempuan itu?

Apa yang menarik dari mereka?

Dan kenapa harus aku?

Kenapa...

Harus...

Aku...?

Kemudian aku teringat. Sejak awal, jalan yang kupilih memang sudah keliru. Aku menyadarinya, tetapi tetap menjalaninya sambil berharap semuanya akan membaik.

Bahwa waktu akan berbaik hati dan memberikan kesempatan untuk memaafkan. 
Dan apa yang terjadi kemudian? 
---
Lihat! 

Seorang perempuan berambut pendek ada di sana.

Sejak kapan dia menyukai rambut sependek itu?

Sejak kapan?

Sejak hatinya tak lagi menaruh kepercayaan pada lelaki itu.  Sejak hatinya di hancukan sehancur hancurnya. 

Sadis. 

Tentu saja tidak. Bahkan tahun berikutnya yang terjadi adalah lebih dari sekedar kata sadis.

---

Aku jadi ingat di bulan yang sama di penghujung 2013, mereka bilang dengan keyakinannya bahwa aku akan menjanda tidak lama setelah menikah. Bahwa pernikahan itu tidak akan membawa hal baik. Pernikahan itu akan sia sia. 

Aku mendengar tanpa sengaja. 

Batinku berucap, bagaimana bisa kalian mendoakan hal buruk?.

---




Sabtu, 06 Juni 2026

Dia-dalam part 1

Mata kami bertemu, lalu debar itu muncul—menghadirkan rona merah di wajahku.
Sejatinya, dia paham tentang perasaan semacam ini. Sejatinya, dia paham bahwa ada batas yang tak boleh dilewati. Dan sejatinya, aku pun paham… dia hanyalah angan.

Jarak yang kubuat menyiratkan ketakutan pada perasaanku sendiri. Aku terlalu lemah untuk menyimpan gejolak seperti ini, namun terlalu kuat hingga tak seorang pun menyadarinya.

Inikah rindu?

Semoga tidak. Ini hanya luka, yang akan sembuh bersama waktu.

Tangerang, 2016



Dia dalam part 2




Mungkin November 2025 adalah saat aku nekat menekan tombol follow untuknya. Sebelumnya, aku hanya beberapa kali melihat story-nya diam-diam.
Lalu Desember datang. Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri menyapa, mencari sedikit perhatian darinya.
Dan dia merespons.
Respons yang biasa saja, sebenarnya.
Lucunya, setiap notifikasi balasan darinya muncul, aku justru tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba pikiranku kosong. Seolah ada bagian dari diriku yang tidak percaya bahwa aku benar-benar bisa berkomunikasi dengannya.
Padahal hanya obrolan sederhana, chat standar seperti yang dilakukan manusia pada umumnya. Tidak ada yang istimewa.
Tetapi dadaku bergemuruh.
Ada rasa sakit dan bahagia yang datang bersamaan. Berdesakan dalam satu waktu, membuatku sadar bahwa beberapa orang memang mampu mengaduk seluruh isi hati hanya dengan satu balasan pesan.
___
Hal yang membuat dadaku bergemuruh adalah ketika menerima balasan sederhana itu:
"Ya, Amy."
Ya, dia menyebut namaku.
Padahal aku tahu persis, itu hanyalah sapaan biasa. Sapaan yang wajar dilakukan manusia kepada manusia lainnya.
Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya bagi dia.
Hanya saja, dadaku tidak pernah menganggapnya biasa.

Kau tahu, bahkan hanya dengan melihat fotonya saja aku bisa merasa malu. Di sana aku tidak hanya melihat wajah yang rupawan. Ia lebih dari sekadar lelaki yang tampan.
Ada pesona yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang membuatku terpaku bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Dan yang paling aneh, perasaan itu tidak juga pergi.
 
Aku tahu persis, aku dan dia bahkan mungkin tidak akan pernah bertemu dalam kebetulan apa pun.

Bukan hanya karena begitu banyak perbedaan di antara kami, tetapi juga karena takdir sepertinya tak pernah memberikan jalannya.

Bahkan untuk sekadar menjadi teman biasa pun, rasanya berat bagiku untuk menerima.

Bagaimana mungkin aku bisa berteman dengan lelaki itu? 

Semakin lama aku melihat foto-foto itu, semakin aku sadar bahwa takdir memang berjalan seperti seharusnya. 

Hanya saja,kenapa perasaan itu terus tinggal, meski waktu telah berjalan begitu jauh.

Sesekali aku memandang fotonya. Sesekali pula membuka kembali sisa-sisa percakapan kami yang dulu.

Setidaknya kini aku tahu, dia bukan ilusi.

Dia bukan sekadar mimpi yang bertahan selama belasan tahun di dalam kepalaku.

Dan malam itu juga nyata. Malam yang akan ku sesali seumur hidupku. 

Dia nyata.

Dia ada sebagai manusia, dengan kehidupan, kesibukan, dan dunianya sendiri.


Dan entah mengapa, mengetahui bahwa dia benar-benar ada justru terasa lebih menyakitkan daripada membiarkannya tetap menjadi mimpi.. 

---

Kemudian, aku tahu sesuatu tentang dia. 

Lalu semuanya menjadi sangat jelas. Dan aku tau batasku. 

Yah, sepertinya menghadapi bulan Juli tiap tahun akan sedikit menyedihkan.

Mungkin aku akan bersenandung lirih menyanyikan lagu ulang tahun utk diriku sendiri, kemudian mengingat seseorang yg sangat aku inginkan sedang menjalani hidupnya dengan baik. 

 Di waktu yang bersamaan pula tergelitik rasa ingin bertanya ' apa sbnrnya kamu tau, kak? '

Semoga tidak. 

---

'Semoga kamu memaafkan semua hal yang tidak bisa aku jelaskan. Semoga kamu memaafkan hal yang mungkin tanpa aku tau akan menyinggung perasaan kamu, semoga kamu selalu sehat dan semoga urusan kamu selalu di permudahkan, ya cintaa'. 

Aamiin.. 

#tentangsenja #senjadibalikjendelakayu



selene

___


waktu itu...



Foto ini di ambil bulan Oktober 2020. Di grand sutera Rajeg, Kab Tangerang. 
--
Ini bukan foto biasa. Foto untuk mengenang diri sendiri. Ternyata kehidupan tidak sebaik itu terhadap perempuan. 
--
tidak berpose untuk terlihat imut. Tetapi menutupi bibir yang membengkak karena pukulan seseorang tepat mengenai bibir bawahnya. Yang pada akhirnya membengkak berhari hari tanpa orang luar tau .  Dua anak itu masih kecil. Tidak mengerti bahaya hanya selangkah di depan matanya. Dan aku juga tidak mengerti ternyata kebohongan mengular di sepanjang kata katanya. 
---
Waktu itu aku menangis. Anak bayi itu pun menangis. Sedangkan balita di pojok kamar tidak memahami apa yang terjadi, dia masih mencerna setiap kejadian yang terlihat oleh matanya. 
---

Jumat, 05 Juni 2026

Mistis

Jadi warga asli Serang, atau kata orang mah “orang kulon” yang merantau, ternyata banyak nggak enaknya.

Misalnya begini, kalau ada yang sakit parah lalu meninggal—entah itu diabetes, maag kronis menurut dokter, atau bahkan cuma jatuh di kamar mandi lalu meninggal di tempat—pasti saja ada kabar kalau sakitnya itu sakit “buatan”. Dan, kata orang pinter, asalnya dari “kulon”.

Lalu mulailah tetangga, teman, abang-abang jualan, sampai para menantu yang asalnya dari “kulon” jadi bahan waspada.

Fitnah?
Pasti.

Padahal yang suka minta air “suci” ke orang pinter ya mereka juga. Lah saya? Kagak.

Jadi sebenarnya siapa yang lebih dekat dengan dunia mistis? Saya atau mereka?

Kadang saya bingung, ini pola pikir masyarakatnya yang masih terlalu primitif atau bagaimana?

Kalau memang nggak melakukan hal begituan sih harusnya santai aja, ya? 

But please, justru stigma itu yang bikin hati dan perasaan jadi nggak nyaman. Ini serius.

Bagaimana mau nyaman kalau setelah ada kabar miring, mereka langsung mengambil jarak?

Katanya, orang Serang identik dengan hal-hal mistis, ilmu hitam, dan semacamnya.

But… apa cuma orang Serang? Yakin?

Bagaimana dengan daerah lain?

Saya lahir di Serang. Orang tua saya asli Serang . bahkan tidak pernah bersinggungan langsung dengan hal-hal mistis seperti yang mereka tuduhkan.

Tapi setiap bicara soal mistis, “orang kulon” selalu jadi kambing hitam.

Dan saya, sebagai orang kulon yang hidup di tengah lingkungan dengan pola pikir seperti ini, otomatis ikut jadi “kambing congek”.

Kenapa?
Saya bisa apa?

Masa iya saya harus berdiri sambil sok bijak lalu berkata,

“Buk… jangan suudzon dulu, buu-ibuukk…”

Yang ada malah jadi bulan-bulanan ibu-ibu. Bahkan mungkin tahunan.

Hahaha… yang ini becanda ding.

Ayolah… mengubah pola pikir itu susah. Apalagi pola pikir ibu-ibu kurang dzikir.
#ifyouknowwhatImean

Ini bukan berarti saya tidak percaya pada hal-hal gaib. Dalam agama pun ada pembahasannya. 

Hanya saja, stigma masyarakat terhadap orang Serang terasa terlalu berlebihan.

Dan mungkin mereka tidak sadar, mereka baru saja melakukan tindakan rasis.

Miris.

NOTE:
Sebenarnya makna “orang kulon” itu luas, tidak sebatas orang dari Serang saja, melainkan juga wilayah Banten lainnya.

Tentang Elvia

#Elvia

“Maafkan aku… ku mohon, maafkan…”

Suara Dave terdengar parau dan gemetar. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengarnya seperti itu. Sementara aku hanya membisu di tepi ranjang, jemariku mencengkeram sprei putih dengan erat.

“Mengertilah, Via… aku tak mampu untuk…”

Kata-katanya terputus ketika air mataku akhirnya tak mampu lagi tertahan.

Masih kupandangi Dave-ku yang menawan. Dengan kemeja krem favoritnya, ia tetap mematung di hadapanku, membawa kabar yang menghancurkan hati.

“Aku harus pergi, Vi… kau mengerti, bukan?”

Ia berbalik, lalu melangkah meninggalkan kamar. Menjauhiku. Bahkan tak peduli pada air mataku yang terus menetes tanpa henti.

Tak lagi kupedulikan maskara yang mungkin luntur atau bedak yang terhapus oleh derasnya tangis. Semua itu tak ada gunanya lagi.

Dave-ku telah pergi.

Meninggalkan secarik undangan yang bahkan belum sempat kusentuh. Surat undangan berhias tinta emas.

Aku masih menangis ketika ponselku berdering… dan masih menangis saat untuk kedua kalinya benda itu kembali berbunyi, memecah sesak tangisku yang meledak tanpa mampu kutahan.

Dengan sesenggukan, kupandangi wajahnya—wajah Dave-ku dalam bingkai foto yang diambil sebulan lalu. Entah mengapa, rasa sakit itu bergemuruh semakin keras di dalam dada.

“Dave…”

Kusebut namanya dengan terbata-bata.

Kuraih kemeja birunya yang tertinggal di lemari. Kucium kain itu, kuhirup aroma tubuhnya, seolah ia masih di sini.

Dan di saat yang sama, aku harus menerima kenyataan pahit bahwa ia tidak akan kembali.

Tidak akan pernah.

Seketika tubuhku melemah. Aku jatuh tergeletak di depan lemari, di antara tumpukan kenangan yang menyesakkan, dengan kemeja biru berlengan panjang itu masih erat dalam pelukan.

Sabtu, 18 Juni 2016

Sang kenangan (Tentang Aryani 2016)







Sebagai manusia, toh kita tidak akan mampu mengubah masa lalu beserta kenangan kehidupan di dalamnya—tentang tangis, tawa, canda, dan gundah gulana.

Bahkan malam ini aku masih mengingat ketika Aryani menuturkan kisah masa lalunya dengan mata menerawang dan suara yang nyaris tak terdengar.

“Aku dipermalukan, dan selalu seperti itu. Menanggung kesalahan orang lain, dan tak pernah dipercaya untuk melakukan kehendakku sendiri. Aku dikekang, dikurung dalam sangkar jerami.”

Lalu suaranya hilang, berganti dengan bulir-bulir air mata.

Aku tak pernah bernyali untuk menanyakan apa yang dialaminya selama di sana, di masa ketika ia merasakan pedih dan dendam yang tak pantas disalurkan.

Hingga suatu hari, semuanya menjadi terlalu terang untuk menutupi fakta yang sebenarnya terjadi.

Aryani datang padaku dengan luka yang siapa pun melihatnya pasti akan iba.

“Aku anak pertama…” Aryani mulai bercerita setelah aku merapikan penampilannya dan masih menggenggam tangannya.

“Aku lupa berapa umurku waktu itu. Yang pasti, aku adalah gadis kecil yang bahagia. Sebagai anak pertama, aku selalu mendapatkan apa pun yang kuinginkan, meski orang tuaku bukan keluarga berada. Hanya buruh tani, seperti orang pelosok pada umumnya.”

Aryani berhenti bercerita dan mulai sesenggukan.

“Lalu petaka itu datang…”

Ia menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu berkata lantang,

“Mereka mengetahuinya… mereka semua…!”

Aryani kembali terdiam beberapa saat.

“Sejak hari itu semuanya berubah. Aku bukan lagi gadis kecil yang bahagia. Aku adalah benalu bagi mereka.”

Untuk kesekian kalinya Aryani terdiam cukup lama, sampai aku hampir tak sabar untuk bertanya. Namun kuurungkan ketika ia mulai membuka suara lagi.

“Dan semuanya terjadi seolah aku adalah pelampiasan kemarahan mereka. Seolah lumrah memukuliku di depan mata orang-orang.”

“Tidak ada pujian, tidak ada pelukan. Hanya ada cacian dan ancaman.”

Aku terhenyak. Bagaimana mungkin seorang gadis kecil yang bahkan tidak tahu kesalahannya diperlakukan sedemikian tidak manusiawi? Hanya sumpah serapah yang diterimanya.

Aryani masih tertunduk ketika mulai bercerita kembali.

“Aku bahkan berpikir aku adalah anak haram, anak pungut, atau semacamnya.”

Aryani tersenyum, meski kutahu itu bukan senyum kebahagiaan.

“Aku iri pada beberapa orang yang memiliki keluarga yang menurutku sangat ideal,” gumamnya.

Aku tak bisa berkata-kata. Menurutku, hal yang wajar jika seseorang merasa hancur ketika diperlakukan tidak adil, bahkan oleh orang terdekatnya sendiri. Ia tidak dibiarkan menikmati masa kecilnya.

Bagaimana mungkin seseorang bisa tumbuh manis dengan sumpah serapah dan pukulan akibat kesalahan sepele yang dilakukan seorang gadis kecil?

Aku bahkan masih tak habis pikir ketika Aryani mengatakan bahwa ia pernah dijambak di malam hari hanya karena tidak mau belajar membaca huruf.

Aku bisa membayangkan ketakutan dan kengerian hidupnya.

Seperti itukah mendidik anak perempuan?

“Bukankah kau punya kaki? Kenapa kau tidak lari atau meminta pertolongan pada orang sekitar?” tanyaku padanya suatu hari.

Ia hanya menggeleng dan berkata,

“Aku tidak merasa bersalah dan tidak punya alasan untuk lari. Tapi untuk beberapa hal aku memang mengakuinya, aku bersalah karena membantah. Namun pikirku, aku hanyalah anak kecil. Sayangnya mereka tidak punya ampun, bahkan untuk sekadar memberikan pengertian padaku. Lalu aku mulai terbiasa…”

Dan aku pun mulai meraba-raba penyebab matinya rasa Aryani pada mereka, menjadikan kesakitan sebagai bagian dari hari-harinya.

Toh nyatanya Aryani tumbuh menjadi pribadi yang berbeda. Ia adalah wanita kuat, mampu bertahan di antara dera.

Tentu aku tak akan sanggup jika berada di posisinya. Membayangkannya saja aku tak ingin.

Namun apa pun dan seperti apa pun kejadiannya, hanya dirinya yang benar-benar memahami bagaimana lukanya masih menganga meski bertahun-tahun telah berlalu.

Sore ini masih menyisakan hujan rintik-rintik ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Pesan dari Aryani.

Tidak ada yang istimewa, hanya ucapan terima kasih. Tetapi entah kenapa aku merasa ada ketulusan di dalamnya.

Belakangan ini aku memang jarang bertemu Aryani. Bukan hanya karena pekerjaan kami berbeda, tetapi juga karena hobi dan kesibukan masing-masing.

Meski sebenarnya aku masih menanti cerita-cerita Aryani padaku.

Ya, mungkin hanya padaku ia mau berbagi luka.

Tentu saja bukan karena ia menyukaiku secara pribadi ataupun aku yang jatuh cinta padanya. Tentu saja tidak. Itu terlalu konyol untuk dipahami.

Kami dibesarkan dengan cara yang hampir sama di masa lalu. Bedanya, aku jauh lebih beruntung dibanding dirinya.

Ah, Aryani… selalu kau sembunyikan dukamu dalam tawa. Selalu kau tunjukkan senyum sumringah bersama hari-hari yang melesat cepat.

Hari telah merangkak malam ketika kuingat pertama kali melihat sosok Aryani di pelabuhan. Ia berdiri di sana dengan jilbab biru muda yang berkibar, menunggu seseorang.

Lalu pertemuan kedua yang tak disangka, di sebuah masjid di Jalan Harapan. Di sana kami berkenalan.

Tak banyak bicara. Itulah kesan pertamaku padanya.

Kemudian sederet pertemuan berikutnya terasa seperti telah dijodohkan. Kami terus bertemu untuk kesekian kalinya hingga akhirnya menjadi karib.

Hal yang mengejutkan adalah Aryani tinggal hanya satu blok dari rumah yang kutinggali.

Meski begitu, kami tidak lantas bertemu setiap hari. Hanya sesekali saja. Namun kami selalu berkirim pesan lewat SMS atau email, jarang bertelepon.

Meski begitu, hal itu tak pernah menyurutkan persahabatan kami.
Dear Aryani... Jika berkenan, masih akan kutunggu cerita gundahmu sebagai penawar pilu.

Dan ingatlah, kita mampu berubah menjadi lebih baik jika kita mau.

#TentangAryani2016