Sebagai manusia, toh kita tidak akan mampu mengubah masa lalu beserta kenangan kehidupan di dalamnya—tentang tangis, tawa, canda, dan gundah gulana.
Bahkan malam ini aku masih mengingat ketika Aryani menuturkan kisah masa lalunya dengan mata menerawang dan suara yang nyaris tak terdengar.
“Aku dipermalukan, dan selalu seperti itu. Menanggung kesalahan orang lain, dan tak pernah dipercaya untuk melakukan kehendakku sendiri. Aku dikekang, dikurung dalam sangkar jerami.”
Lalu suaranya hilang, berganti dengan bulir-bulir air mata.
Aku tak pernah bernyali untuk menanyakan apa yang dialaminya selama di sana, di masa ketika ia merasakan pedih dan dendam yang tak pantas disalurkan.
Hingga suatu hari, semuanya menjadi terlalu terang untuk menutupi fakta yang sebenarnya terjadi.
Aryani datang padaku dengan luka yang siapa pun melihatnya pasti akan iba.
“Aku anak pertama…” Aryani mulai bercerita setelah aku merapikan penampilannya dan masih menggenggam tangannya.
“Aku lupa berapa umurku waktu itu. Yang pasti, aku adalah gadis kecil yang bahagia. Sebagai anak pertama, aku selalu mendapatkan apa pun yang kuinginkan, meski orang tuaku bukan keluarga berada. Hanya buruh tani, seperti orang pelosok pada umumnya.”
Aryani berhenti bercerita dan mulai sesenggukan.
“Lalu petaka itu datang…”
Ia menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu berkata lantang,
“Mereka mengetahuinya… mereka semua…!”
Aryani kembali terdiam beberapa saat.
“Sejak hari itu semuanya berubah. Aku bukan lagi gadis kecil yang bahagia. Aku adalah benalu bagi mereka.”
Untuk kesekian kalinya Aryani terdiam cukup lama, sampai aku hampir tak sabar untuk bertanya. Namun kuurungkan ketika ia mulai membuka suara lagi.
“Dan semuanya terjadi seolah aku adalah pelampiasan kemarahan mereka. Seolah lumrah memukuliku di depan mata orang-orang.”
“Tidak ada pujian, tidak ada pelukan. Hanya ada cacian dan ancaman.”
Aku terhenyak. Bagaimana mungkin seorang gadis kecil yang bahkan tidak tahu kesalahannya diperlakukan sedemikian tidak manusiawi? Hanya sumpah serapah yang diterimanya.
Aryani masih tertunduk ketika mulai bercerita kembali.
“Aku bahkan berpikir aku adalah anak haram, anak pungut, atau semacamnya.”
Aryani tersenyum, meski kutahu itu bukan senyum kebahagiaan.
“Aku iri pada beberapa orang yang memiliki keluarga yang menurutku sangat ideal,” gumamnya.
Aku tak bisa berkata-kata. Menurutku, hal yang wajar jika seseorang merasa hancur ketika diperlakukan tidak adil, bahkan oleh orang terdekatnya sendiri. Ia tidak dibiarkan menikmati masa kecilnya.
Bagaimana mungkin seseorang bisa tumbuh manis dengan sumpah serapah dan pukulan akibat kesalahan sepele yang dilakukan seorang gadis kecil?
Aku bahkan masih tak habis pikir ketika Aryani mengatakan bahwa ia pernah dijambak di malam hari hanya karena tidak mau belajar membaca huruf.
Aku bisa membayangkan ketakutan dan kengerian hidupnya.
Seperti itukah mendidik anak perempuan?
“Bukankah kau punya kaki? Kenapa kau tidak lari atau meminta pertolongan pada orang sekitar?” tanyaku padanya suatu hari.
Ia hanya menggeleng dan berkata,
“Aku tidak merasa bersalah dan tidak punya alasan untuk lari. Tapi untuk beberapa hal aku memang mengakuinya, aku bersalah karena membantah. Namun pikirku, aku hanyalah anak kecil. Sayangnya mereka tidak punya ampun, bahkan untuk sekadar memberikan pengertian padaku. Lalu aku mulai terbiasa…”
Dan aku pun mulai meraba-raba penyebab matinya rasa Aryani pada mereka, menjadikan kesakitan sebagai bagian dari hari-harinya.
Toh nyatanya Aryani tumbuh menjadi pribadi yang berbeda. Ia adalah wanita kuat, mampu bertahan di antara dera.
Tentu aku tak akan sanggup jika berada di posisinya. Membayangkannya saja aku tak ingin.
Namun apa pun dan seperti apa pun kejadiannya, hanya dirinya yang benar-benar memahami bagaimana lukanya masih menganga meski bertahun-tahun telah berlalu.
Sore ini masih menyisakan hujan rintik-rintik ketika sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Pesan dari Aryani.
Tidak ada yang istimewa, hanya ucapan terima kasih. Tetapi entah kenapa aku merasa ada ketulusan di dalamnya.
Belakangan ini aku memang jarang bertemu Aryani. Bukan hanya karena pekerjaan kami berbeda, tetapi juga karena hobi dan kesibukan masing-masing.
Meski sebenarnya aku masih menanti cerita-cerita Aryani padaku.
Ya, mungkin hanya padaku ia mau berbagi luka.
Tentu saja bukan karena ia menyukaiku secara pribadi ataupun aku yang jatuh cinta padanya. Tentu saja tidak. Itu terlalu konyol untuk dipahami.
Kami dibesarkan dengan cara yang hampir sama di masa lalu. Bedanya, aku jauh lebih beruntung dibanding dirinya.
Ah, Aryani… selalu kau sembunyikan dukamu dalam tawa. Selalu kau tunjukkan senyum sumringah bersama hari-hari yang melesat cepat.
Hari telah merangkak malam ketika kuingat pertama kali melihat sosok Aryani di pelabuhan. Ia berdiri di sana dengan jilbab biru muda yang berkibar, menunggu seseorang.
Lalu pertemuan kedua yang tak disangka, di sebuah masjid di Jalan Harapan. Di sana kami berkenalan.
Tak banyak bicara. Itulah kesan pertamaku padanya.
Kemudian sederet pertemuan berikutnya terasa seperti telah dijodohkan. Kami terus bertemu untuk kesekian kalinya hingga akhirnya menjadi karib.
Hal yang mengejutkan adalah Aryani tinggal hanya satu blok dari rumah yang kutinggali.
Meski begitu, kami tidak lantas bertemu setiap hari. Hanya sesekali saja. Namun kami selalu berkirim pesan lewat SMS atau email, jarang bertelepon.
Meski begitu, hal itu tak pernah menyurutkan persahabatan kami.
Dear Aryani... Jika berkenan, masih akan kutunggu cerita gundahmu sebagai penawar pilu.
Dan ingatlah, kita mampu berubah menjadi lebih baik jika kita mau.
#TentangAryani2016