“Maafkan aku… ku mohon, maafkan…”
Suara Dave terdengar parau dan gemetar. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengarnya seperti itu. Sementara aku hanya membisu di tepi ranjang, jemariku mencengkeram sprei putih dengan erat.
“Mengertilah, Via… aku tak mampu untuk…”
Kata-katanya terputus ketika air mataku akhirnya tak mampu lagi tertahan.
Masih kupandangi Dave-ku yang menawan. Dengan kemeja krem favoritnya, ia tetap mematung di hadapanku, membawa kabar yang menghancurkan hati.
“Aku harus pergi, Vi… kau mengerti, bukan?”
Ia berbalik, lalu melangkah meninggalkan kamar. Menjauhiku. Bahkan tak peduli pada air mataku yang terus menetes tanpa henti.
Tak lagi kupedulikan maskara yang mungkin luntur atau bedak yang terhapus oleh derasnya tangis. Semua itu tak ada gunanya lagi.
Dave-ku telah pergi.
Meninggalkan secarik undangan yang bahkan belum sempat kusentuh. Surat undangan berhias tinta emas.
Aku masih menangis ketika ponselku berdering… dan masih menangis saat untuk kedua kalinya benda itu kembali berbunyi, memecah sesak tangisku yang meledak tanpa mampu kutahan.
Dengan sesenggukan, kupandangi wajahnya—wajah Dave-ku dalam bingkai foto yang diambil sebulan lalu. Entah mengapa, rasa sakit itu bergemuruh semakin keras di dalam dada.
“Dave…”
Kusebut namanya dengan terbata-bata.
Kuraih kemeja birunya yang tertinggal di lemari. Kucium kain itu, kuhirup aroma tubuhnya, seolah ia masih di sini.
Dan di saat yang sama, aku harus menerima kenyataan pahit bahwa ia tidak akan kembali.
Tidak akan pernah.
Seketika tubuhku melemah. Aku jatuh tergeletak di depan lemari, di antara tumpukan kenangan yang menyesakkan, dengan kemeja biru berlengan panjang itu masih erat dalam pelukan.