Sabtu, 06 Juni 2026

Dia dalam part 2




Mungkin November 2025 adalah saat aku nekat menekan tombol follow untuknya. Sebelumnya, aku hanya beberapa kali melihat story-nya diam-diam.
Lalu Desember datang. Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri menyapa, mencari sedikit perhatian darinya.
Dan dia merespons.
Respons yang biasa saja, sebenarnya.
Lucunya, setiap notifikasi balasan darinya muncul, aku justru tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba pikiranku kosong. Seolah ada bagian dari diriku yang tidak percaya bahwa aku benar-benar bisa berkomunikasi dengannya.
Padahal hanya obrolan sederhana, chat standar seperti yang dilakukan manusia pada umumnya. Tidak ada yang istimewa.
Tetapi dadaku bergemuruh.
Ada rasa sakit dan bahagia yang datang bersamaan. Berdesakan dalam satu waktu, membuatku sadar bahwa beberapa orang memang mampu mengaduk seluruh isi hati hanya dengan satu balasan pesan.
___
Hal yang membuat dadaku bergemuruh adalah ketika menerima balasan sederhana itu:
"Ya, Amy."
Ya, dia menyebut namaku.
Padahal aku tahu persis, itu hanyalah sapaan biasa. Sapaan yang wajar dilakukan manusia kepada manusia lainnya.
Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya bagi dia.
Hanya saja, dadaku tidak pernah menganggapnya biasa.

Kau tahu, bahkan hanya dengan melihat fotonya saja aku bisa merasa malu. Di sana aku tidak hanya melihat wajah yang rupawan. Ia lebih dari sekadar lelaki yang tampan.
Ada pesona yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang membuatku terpaku bahkan setelah bertahun-tahun berlalu.
Dan yang paling aneh, perasaan itu tidak juga pergi.
 
Aku tahu persis, aku dan dia bahkan mungkin tidak akan pernah bertemu dalam kebetulan apa pun.

Bukan hanya karena begitu banyak perbedaan di antara kami, tetapi juga karena takdir sepertinya tak pernah memberikan jalannya.

Bahkan untuk sekadar menjadi teman biasa pun, rasanya berat bagiku untuk menerima.

Bagaimana mungkin aku bisa berteman dengan lelaki itu? 

Semakin lama aku melihat foto-foto itu, semakin aku sadar bahwa takdir memang berjalan seperti seharusnya. 

Hanya saja,kenapa perasaan itu terus tinggal, meski waktu telah berjalan begitu jauh.

Sesekali aku memandang fotonya. Sesekali pula membuka kembali sisa-sisa percakapan kami yang dulu.

Setidaknya kini aku tahu, dia bukan ilusi.

Dia bukan sekadar mimpi yang bertahan selama belasan tahun di dalam kepalaku.

Dan malam itu juga nyata. Malam yang akan ku sesali seumur hidupku. 

Dia nyata.

Dia ada sebagai manusia, dengan kehidupan, kesibukan, dan dunianya sendiri.


Dan entah mengapa, mengetahui bahwa dia benar-benar ada justru terasa lebih menyakitkan daripada membiarkannya tetap menjadi mimpi.. 

---

Kemudian, aku tahu sesuatu tentang dia. 

Lalu semuanya menjadi sangat jelas. Dan aku tau batasku. 

Yah, sepertinya menghadapi bulan Juli tiap tahun akan sedikit menyedihkan.

Mungkin aku akan bersenandung lirih menyanyikan lagu ulang tahun utk diriku sendiri, kemudian mengingat seseorang yg sangat aku inginkan sedang menjalani hidupnya dengan baik. 

 Di waktu yang bersamaan pula tergelitik rasa ingin bertanya ' apa sbnrnya kamu tau, kak? '

Semoga tidak. 

---

'Semoga kamu memaafkan semua hal yang tidak bisa aku jelaskan. Semoga kamu memaafkan hal yang mungkin tanpa aku tau akan menyinggung perasaan kamu, semoga kamu selalu sehat dan semoga urusan kamu selalu di permudahkan, ya cintaa'. 

Aamiin.. 

#tentangsenja #senjadibalikjendelakayu



selene

___